Ananda Berulah Ayah Bunda Tahan Amarah
Dalam ilmu jiwa, akar dari amarah adalah ketidakpuasan terhadap sesuatu. Bukan perkara gampang tentu mengendalikan amarah ketika anak sedang berulah. Ayah Bunda berharap ananda bisa bersikap disiplin sesuai dengan yang diminta. Ayah Bunda mengharapkan Ananda setiap malam belajar namun justru Ananda bermalasan asyik dengan HP androidnya. Maka reaksi Ayah Bunda akan marah dan bisa saja berteriak pada Ananda. Anehnya reaksi amarah tersebut
bukannya menyelesaikan persoalan justru menambah permasalah baru. Anak semakin berlanjut dengan kebiasaan tersebut. Sedangkan Ayah Bunda mengalami keletihan teramat sangat ketika harus marah setiap saat, Akan tetapi tak bisa dipungkiri bahwa tak mudah menahan amarah, meski setelah amarah diluapkan yang terjadi adalah penyesalan Ayah Bunda. Selain penyesalan juga akan mengakibatkan luka pada MENTAL ananda.
Perlakuan semenjak usia perkembangan apalagi usia-usia emas sangat berdampak pada Ananda ketika dewasa kelak. Sudah tentu Ayah Bunda tak berharap ananda kelak menjadi pribadi yang juga emosional bahkan tanpa tak tahu kenapa dirinya menjadi pemarah. Hal tersebut sebab perlakuan ketika usia perkembangan ananda sering mendapatkan luapan amarah Ayah Bunda. Maka Ayah Bunda tentu tak ingin ketika sudah beranjak menua Ananda justru bukan menjadi penyejuk hati, namun menjadi duri keluarga. Meski demikian Ayah Bunda berhak marah secara bijak (hangat) ketika Ananda justru bermalas- malasan ketika Adzan telah berkumandang. Namun sebelum amarah tentu Ayah Bunda telah memberikan pemahaman dan pentingnya untuk sholat tepat pada waktunya. Dan sholat di masjid bagi laki-laki. Seringnya Ayah Bunda marah- semarahnya hanya permasalah duniawi. Ananda mendapatkan rendah dimata pelajaran tertentu. Yang endingnya Ayah Bunda hanya menuntut prestasi duniawi. Hal ini akan membuat Ananda hanya lelah dengan tujuan duniawi yang sementara dan menipu.
Apa saja yang bisa dilakukan Ayah Bunda ketika ananda membuat ulah, mengecewakan dan sulit dinasehati. Sehingga mengundang amarah Ayah Bunda. Ketika rasa kecewa kepada Ananda hadir maka detik pertama yang Ayah Bunda bisa kerjakan adalah mengubah fokus atau dengan memikirkan hal baik dan menggemaskan Dan cobalah untuk mengingat seluruh kelebihan-kelebihan Ananda. Apabila amarah Ayah Bunda belum reda mendiamkannya (dengan posisi Ayah Bunda duduk) menjadi teknik yang luar biasa dibandingkan harus mengeluarkan kata-kata yang menghancurkan mental Ananda. Senjata Ayah bunda biasanya membandingkan Ananda dengan anak yang lain atau mengatakan perilaku negatif ananda. Dan, apabila mengingat Allah lalu berlindung kepada-Nya dari kejahatan setan maka akan menghasilkan ketenteraman hati secara signifikan. & Bila salah seorang dari kamu marah dalam keadan berdiri hendalah duduk, bila kemarahan masih belum hilang hendaklah ia berbaring. (HR Ahmad).
Selanjutnya Ayah Bunda dapat menggunakan senjata doa, agar senantiasa mendapatkan perlindungan dari keburukan. Sebab doa merupakan senjata mutakhir untuk menembus pintu- pintu langit. Saat Rasulullah sholallahu ‘alaihi wa sallam melihat seorang sedang marah besar beliau bersabda, Aku akan ajarkan kalimat-kalimat kalau dia membacanya akan hilang kemarahannya. Kalau dia mengucapkan Audzubillahi minas syaithoni ar rajiim pasti akan hilang amarahnya.(HR Bukhari dan Muslim). Dengan semakin kita tenang berbicara pada Ananda akan membuat ananda memahami kesalahannya. Hal ini bisa terus dilatih Ayah Bunda untuk bersikap hangat pada ananda daripada harus berteriak dan memaki justru akan membuat Ananda semakin tak terkendali.